Masyarakat onta dan masyarakat kapal udara

ISLAM SONTOLOYO (batja : Islam Sontoloojoo, by Soekarno)

“Di dalam surat kabar Pemandangan 8 April j.l. saya membaca satu perkabaran yang ganjil: seorang guru agama  dijebloskan ke dalam bui tahanan karena ia memperkosa kehormatan salah seorang muridnya yang masih gadis kecil.
Bahwa orang dijebloskan ke dalam tahanan kalau ia memperkosa gadis itu tidaklah ganjil. Dan tidak terlalu ganjil pula kalau seorang guru memperkosa seorang muridnya. Bukan karena ini perbuatan tidak bersifat kebinatangan, jauh dari itu, tetapi oleh karena memang kadang-kadang terjadi kebinatangan semacam itu. Yang saya katakana ganjil ialah caranya si guru itu “menghalalkan” ia punya perbuatan. Sungguh, kalau reportase di surat kabar Pemandangan itu benar, maka benar-benarlah di sini kita melihat Islam Sontoloyo….!!! Suatu perbuatan dosa dihalalkan menurut hokum fiqh.”

“Cobalah kita mengambil satu contoh. Islam melarang kita makan daging babi. Islam juga melarang kita menghina kepada si miskin, memakan haknya anak yatim, menfitnah orang lain, menyekutukan Tuhan Yang Esa itu. Malahan yang belakangan ini dikatakan dosa yang terbesar, dosa datuknya dosa. Tetapi apa yang kita lihat? Coba Tuan menghina si miskin, makan haknya anak yatim, menfitnah orang lain, musyrik di dalam Tuan punya pikiran dan perbuatan. Maka tidak banyak orang yang akan menunjuk kepada tuan dengan jari seraya berkata: tuan menyalahi Islam. Tetapi coba tuan makan daging babi, walau hanya sebesar biji asam pun dan seluruh dunia akan mengatakan tuan orang kafir. Inilah gambarnya jiwa Islam sekarang ini, terlalu mementingkan kulitnya saja, tidak mementingkan isi. Terlalu terikat kepada “uiterlijke vormen” saja, tidak menyalah-nyalahkan “intrinsieke waarde”. ”Ah”, saya meniru perkataan Budiman Kwadjda Kamaludin: alangkah baiknya kita disamping fiqh itu mempelajari juga sungguh-sungguh etiknya Quran, intrinsieke waardennya Quran. Alangkah baiknya pula kita meninjau sejarah yang telah lampau, mempelajari sejarah itu, melihat dimana letaknya garis menaik dan dimana letaknya garis menurun dari masyarakat Islam, akan menguji kebenaran perkataan Prof. Tor Andrea yang mengatakan bahwa juga Islam terkena fatum kehilangan jiwanya yang dinamis, sesudah lebih ingat kepada ia punya system perundang-undangan kepada ia punya ajaran jiwa. Dulupun dari Ende pernah saya tuliskan: “umumnya kita punya kyai-kyai dan kita punya ulama-ulama tak ada sedikitpun “feeling” kepada sejarah. Ya boleh saya katakana kebanyakan tak mengetahui sedikitpun sejarah itu. Mereka punya minat hanya kepada agama khusus saja, dan dari agama ini, terutama sekali bagian fiqh. Sejarah, apalagi bagian “yang lebih dalam”, yakni yang mempelajari kekuatan-kekuatan masyarakat yang menyebabkan kemajuannya atau kemunduran suatu bangsa, -sejarah itu sama sekali tak menarik mereka punya perhatian. Padahal di sini, di sinilah penyelidikan yang maha penting! Apa sebab mundur? Apa sebab maju? Apa sebab bangsa ini di jaman ini begini? Apa sebab bangsa itu di jaman itu begitu? Inilah pertanyaan-pertanyaan yang maha penting yang harus berputar, terus-menerus di dalam kita punya ingatan kalau kita mempelajari naik turunnya sejarah itu.

Tetapi bagaimana kita punya kyai-kyai dan ulama-ulama? Tajwid membaca Quran, hafal ratusan hadits, mahir dalam ilmu syarak, tetapi pengetahuannya tentang sejarah umumnya nihil. Paling mujur mereka hanya mengetahui “tartich Islam” saja.  Dan inipun terambil dari buku-bukunya tarich Islam yang kuno, yang tak dapat tahan ujiannya ilmu pengetahuan modern.Padahal dari tarich Islam inipun saja mereka sudah akan dapat menggali juga banyak ilmu yang berharga. KITA UMUMNYA MEMPELAJARI HUKUM, TETAPI TIDAK MEMPELAJARI CARANYA ORANG DULU MENTANFIZKAN HUKUM ITU. “fiqh pada waktu itu hanyalah kendaraan saja, tetapi kendaraan ini dikusiri oleh rohnya etik Islam serta tauhid yang hidup, dan ditarik oleh kuda sembrani yang di atas tubuhnya ada tertulis ayat Quran: “janganlah kamu lembek dan janganlah kamu mengeluh sebab kamu akan menang, asal kamu mukmin sejati”. Fiqh ditarik oleh agama hidup, dikendarai oleh agama hidup, disemangati agama hidup, roh agama hidup yang berapi-api dan menyala-nyala. Dengan fiqh yang demikian itu umat Islam menjadi cakrawati di separuh dunia.

Kebalikannya, bahwa sejak islam studie dijadikan fiqh studie garis kenaikan itu menjadi membelok ke bawah. Menjadi garis yang menurun. Di situlah lantas islam membeku menurut kata Essad Bey, membeku menjadi satu system formil belaka. Lenyaplah ia punya tenaga yang hidup. Lenyaplah ia punya jiwa penarik, lenyaplah ia punya ketangkasan yang mengingatkan kepada ketangkasannya harimau. Kendaraan tiada lagi punya kuda, tiada lagi punya kusir. Ia tiada bergerak lagi, ia mandeg!

Dan bukan saja mandeg! Kendaraan mandeg pun lama-lama menjadi amoh. Fiqh bukan lagi menjadi petunjuk dan pembatas hidup, fiqh kini kadang-kadang menjadi penghalalnya perbuatan-perbuatan kaum sontoloyooo…! Maka benarlah perkataannya Halide Edib Hanoum, bahwa Islam di zaman akhir-akhir ini “bukan lagi agama pemimpin hidup, tetapi agama prokol-bambu”

Benar, ini sah, ini halal, tapi halalnya Islam Sontoloyo! Halalnya orang yang mau main kikebu dengan Tuhan, atau orang yang mau main “kucing-kucingan” dengan Tuhan. Dan kalau mau memakai perkataan yang lebih jitu, halalnya orang yang mau mengabui mata Tuhan!

Seolah-olah Tuhan diabui matanya! Seolah-olah agama sudah dipenuhi atau sudah diturut, kalau dilahirnya syariat saja sudah dikerjakan! Tetapi tidakkah yang demikian itu sering kita jumpakan! (Di Bawah Bendera Revolusi Jilid Pertama Halaman 493-494)

Verifikasi Sejarah

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2003), kata “sontoloyo” diartikan sebagai: konyol, tidak beres, bodoh, dan dipakai sebagai kata makian (umpatan). Tetapi, dalam ungkapan istilah Jawa, kata sontoloyo artinya penggembala bebek.

Konon, umpatan “sontoloyo” ini kembali dipopulerkan oleh Presiden pertama Republik Indonesia (1945-1967), Soekarno (1901-1970), pada 1940. Melalui sebuah artikel yang ditulisnya di sebuah majalah yang terbit di Medan, Panji Islam (8 April 1940), berjudul “Islam Sontoloyo”. Dalam tulisannya itu, secara sengit Bung Karno mengkritik para guru, ustadz, dan kiai yang dinilainya terlalu literer, fiqh oriented, dalam berfikir dan dalam praktik keagamaan.

Melalui ungkapannya yang penuh sarkastis, Bung Karno memang terkesan boros menyerang paham dan praktik keberagamaan yang dianggapnya jumud (beku) dan irasional. Ketika berada di Bengkulu, tempat pembuangannya setelah diasingkan penjajah Belanda ke Ende, Flores beberapa tahun, Bung Karno berang membaca berita yang ditulis surat kabar Pemandangan (6 April 1940).

Semasa masih dalam pembuangannya di Ende, Flores, Bung Karno seringkali ‘berdiskusi’ (lewat korespondensi surat-menyurat) dengan Ustadz A. Hassan, pemimpin Persis di Bandung kala itu. Namun sekembalinya Bung Karno dari tanah pengasingannya itu, ia aktif menulis artikel di media massa pada sekitar 1940-an.

Bung Karno menulis banyak hal. Kebanyakan yang dibicarakannya tentang bagaimana mengoperasi Islam dari bisul-bisulnya, bagaimana memerdekakan alam pikiran dari kejumudan, taklidisme, hadramautisme, dari sikap dan praktik ‘mengambing’, kolot bin kolot, mesum mbahnya mesum, dan dari lingkungan dupa serta korma, jubah, dan celak mata. Baginya, Islam is progress. Harus ditafsir ulang (reinterpretasi) dari zaman ke zaman, supaya tetap up to date.
Dalam kata-katanya sendiri, Bung Karno ingin menangkap Islam sebagai “api” bukan sebagai “abu”, apalagi Islam sebagai sontoloyo.

Sejumlah kaum wartawan muslim di sekitar 1935-an di Medan, mendirikan Warmusi (Wartawan Muslimin Indonesia), dipelopori oleh Mohammad Yunan Nasution (Pedoman Masyarakat), Zainal Abidin Ahmad (Pandji Islam), dan di Jawa Soerono Wirohardjono (Adil, Solo), Wali al-Fatah dan Ghafar Ismail.

Seperti yang diharapkan, protes Soekarno itu mengundang komentar pers. Koresponden Antara lalu mewawancarainya—dan hasilnya dimuat di majalah Pandji Islam dengan judul “Tabir adalah Lambang Perbudakan”. Majalah ini, yang dipimpin Zainal.Abidin Ahmad, bersama Pedoman Masjarakat di bawah pimpinan Hamka dan Yunan Nasution, dua-duanya di Medan, pada 1959 nanti dilebur menjadi Pandji Masjarakat (Pandjimas). sedangkan majalah pemandangan di dirikan oleh Mr. Sumanang

http://www,pwi.or.id/index.php/Pressedia/S-dari-Eniklopedia-Pers-Indonesia-EPI.html